<p align="justify"> Natal, hari yang selalu kita nanti-nantikan, menjadi hari yang kita rayakan dengan penuh sukacita. Natal adalah saat bersukacita karena kelahiran Juru Selamat kita. Sukacita Natal ini biasa dirayakan dengan saling membagikan kasih kepada saudara-saudara kita lainnya. Walaupun Tuhan menghendaki kita untuk berbagi kasih kapan saja, tetapi akan terasa berbeda bila kita melakukannya di hari Natal. Di Natal tahun ini, Sahabat C3I diajak untuk merayakan sukacita Natal melalui renungan, artikel, kesaksian, dan tips berikut ini. Kiranya sajian ini bisa menjadi inspirasi untuk berbagi kasih dan sukacita Natal kali ini. Selamat membaca.</p>
"Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." (Lukas 2:17-19)
Natal adalah kesempatan untuk pesta, itulah yang terjadi sekarang. Rasanya Natal jadi kurang greget kalau tidak disertai dengan gemerlap lampu, pelbagai dekorasi Natal, berlimpahnya makanan, dan indahnya pakaian.
Natal datang lagi. Bersamaan dengan itu, datang pula kartu-kartu
Natal berisi ucapan selamat. Kini dengan berbagai desainnya yang
bervariasi, kartu Natal memang semakin menarik. Namun bila
dipikir-pikir, kok mengucapkan Natal melulu dengan kartu. Apa tak
ada cara lain untuk mengucapkannya, yang tak kalah spesial dan tak
kalah mengesankan dibanding kartu Natal yang bisa menyanyi? Ayo kita
coba menggali ide-ide baru dalam mengucapkan Natal bagi orang tua,
pasangan hidup, kekasih, sahabat, dan kolega-kolega lain.
Ada saat-saat di dalam hidup kita yang menonjol seperti batu mulia.
Ada yang diharapkan dan direncanakan, ada pula yang direkam.
Kadang-kadang, saat-saat itu diberikan kepada kita sebagai sesuatu
yang memberikan pemahaman baru. Yang kumaksud ialah beberapa
peristiwa luar biasa yang mengubah cara pandang kita terhadap dunia
dan kehidupan. Pada Desember 1990, aku mendapat hadiah cinta dan
harapan yang sangat besar sehingga jalan hidupku mengalami
perubahan. Hadiah yang kumaksud ialah Kelly. Ia adalah seekor anjing
pelacak yang berbulu coklat keemasan.
Meskipun kelahiran Yesus ke dunia sangat sederhana, perayaan Natal kini identik dengan pesta besar dan belanja besar-besaran, rekreasi dan bersukaria. Namun di bagian lain dari bumi ini, banyak orang sedang mengalami kelaparan, penganiayaan, dan penderitaan karena berbagai bencana alam. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi semua itu? Apakah kita akan bersikap acuh tak acuh atau menundukkan kepala dan turut merasakan penderitaan mereka?
Natal membangkitkan berbagai kenangan. Sebagai seorang anak
laki-laki, aku masih ingat ketika aku berada di tengah-tengah
kegembiraan yang tak dapat dilukiskan antara kereta api listrik,
sepeda-sepeda, sarung tangan baseball, dan sepatu roda. Sebagai
seorang ayah muda, aku ingat ketika mata anak-anakku yang kecil
bercahaya. Mereka melihat keajaiban pada hari itu. Tetapi di antara
itu semua, ada sebuah Natal yang tak dapat kulupakan.
Pada suatu musim panas, keluarga saya memberi pekerjaan kepada
seorang pengembara meskipun kami menduga orang itu peminum. Pada
musim gugur, ia meninggalkan kami, tetapi pada hari Natal, sebuah
kartu Natal dikirim dari tempat yang ratusan mil jauhnya -- tak ada
pesan yang tertulis, hanya ada tanda tangan. Lalu pada musim semi,
ia datang menemui kami.