Komunikasi dalam Pernikahan
Meskipun kita sudah menyatukan hati dengan suami atau istri, tidak berarti dalam berkomunikasi pun kita bisa selalu klop. Oleh sebab
Bagi Anda yang rindu mendapatkan bahan-bahan konseling Kristen, Anda bisa menjelajahinya dalam situs C3I yang memuat ribuan bahan konseling untuk memperlengkapi Anda dalam pelayanan konseling. Selain bahan teks, kami juga menyediakan audio dari artikel-artikel di situs C3I ini. Anda dapat mendengarkan atau mengunduhnya melalui menu Daftar Audio Artikel berikut :
Jangan ketinggalan pula untuk menyimak Fokus C3I bulan ini yang mengangkat tema tentang prinsip menolong keluarga yang menghadapi penyakit mematikan. Kiranya menjadi berkat!
Meskipun kita sudah menyatukan hati dengan suami atau istri, tidak berarti dalam berkomunikasi pun kita bisa selalu klop. Oleh sebab
Begitu banyak masalah pernikahan yang terjadi dalam kurun usia tertentu, tepatnya usia 40 -- 60. Pada umumnya, kita mengaitkan gejala itu dengan pubertas kedua. Pertanyaannya adalah apakah ada pubertas kedua, dan jika ada, apakah yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya masalah dalam pernikahan?
Fakta
Sesungguhnya, masalah yang dikaitkan dengan pubertas adalah masalah-masalah perubahan akibat perkembangan fisik. Masa remaja adalah masa pubertas yang sarat dengan perubahan fisik yang menyebabkan munculnya perubahan cara berpikir, keterampilan menjalin relasi, dan pengelolaan emosi.
Okultisme merupakan ilmu yang bersifat supranatural. Ilmu tentang roh di mana orang mempelajari roh-roh yang bukan Roh Allah, melainkan roh-roh di luar Roh Allah. Tujuan ilmu ini ialah untuk melindungi diri dari serangan orang lain, dari serangan roh-roh di luar Roh Tuhan, dan juga dari alam ini. Kita harus membedakan roh terang dan roh gelap; Roh Allah di pihak roh yang terang, sedangkan roh setan atau iblis itu di pihak roh gelap. Berarti dalam hal ini, ada dua kekuatan yang besar: ada kekuatan dari Allah dan ada kekuatan dari iblis.
Dalam dunia ini ada dua roh yang kita kenal, yaitu Roh Tuhan dan roh iblis atau setan.
Ulangan 11:19, "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."
Pengajaran firman Tuhan kepada anak perlu dilakukan secara berulang-ulang dan dengan tidak bosan-bosannya karena ini akan memudahkan anak untuk mengerti apa yang kita ajarkan.
Dalam mendidik anak, seharusnya orang tua tidak hanya banyak bicara, tetapi lebih banyak memberikan teladan kepada anak. Jadi, seandainya orang tua hendak mengajarkan firman Tuhan mereka harus terlebih dahulu menunjukkannya, memberikan contoh kepada anak.
Pdt. Dr. Vivian Soesilo, seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang,